Find Us OIn Facebook

Oleh :

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
ASAS KEBANGKITAN DUNIA ISLAM
KATA PENGANTAR
Tulisan ini merupakan jawaban dari pertanyaan pernah yang dilontarkan kepada Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah di majalah Al-Ashalah, edisi 11, tertanggal. 15 Dzulhijjah 1414H, dan pernah dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 13/II/1416 H,
Dan hal ini sengaja diangkat kembali karena adanya hubungan dengan ilmu, tentunya dengan bermohon atas Ridho Alloh Subhanallohu Wata'ala.

ASAS KEBANGKITAN DUNIA ISLAM

Bentuk pertanyaan yang dilontarkan adalah sebagai berikut:
Pertanyaan:
Asas-asas apakah yang dapat menyebabkan Dunia Islam bangkit kembali?
Jawab.
Yang saya yakini ialah apa yang terdapat dalam hadits shahih. Ia merupakan jawaban tegas terhadap pertanyaan semacam itu, yang mungkin di lontarkan pada masa sekarang ini. Hadits itu adalah sabda Rosulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM.
Artinya :
"Apabila kamu melakukan jual beli dengan sistem 'iinah (seseorang menjual sesuatu kepada orang lain dengan pembayaran di belakang, tetapi sebelum si pembeli membayarnya si penjual telah membelinya kembali dengan harga murah red),Menjadikan dirimu berada di belakang ekor sapi, ridha dengan cocok tanam dan meninggalkan jihad, niscaya Alloh akan menjadikan kamu dikuasai oleh kehinaan, Alloh tidak akan mencabut kehinaan itu dari dirimu sebelum kamu rujuk (kembali) kepada dien kamu". (Hadist Shahih riwayat Abu Dawud).

Jadi asasnya ialah:
RUJUK (kembali) kepada ISLAM.

Persoalan ini, telah diisyaratkan oleh Imam Malik rahimahullah dalam sebuah kalimat ma'tsur yang ditulis dengan tinta emas:
"Barangsiapa mengada-adakan bid'ah di dalam Islam kemudian menganggap bid'ah itu baik, berarti ia telah menganggap Muhammad SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM menghianati risalah".
Bacalah firman Alloh Tabaraka wa Ta'ala.
Artinya:
"Pada hari ini telah Ku-SEMPURNAKAN untuk kamu agamamu, dan telah Ku- SEMPURNAKAN buatmu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu". (Al-Maaidah: 3).

"OLEH KARENANYA APA YANG HARI ITU BUKAN AGAMA, MAKA HARI INIPUN BUKAN AGAMA, DAN TIDAKLAH AKAN BAIK UMAT AKHIR INI MELAINKAN DENGAN APA YANG TELAH BAIK PADA AWAL UMAT INI"

Kalimat terakhir (Imam Malik) di atas itulah yang berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan ini, yaitu pernyataannya : "Dan tidaklah akan baik umat akhir ini melainkan dengan apa yang telah baik pada awal umat ini".
Oleh sebab itu, sebagaimana halnya orang Arab Jahiliyah dahulu tidak menjadi baik keadaannya kecuali setelah datangnya Nabi mereka, Muhammad SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM dengan membawa wahyu dari langit, yang telah menyebabkan kehidupan mereka di dunia berbahagia dan selamat dalam kehidupan akhirat. Demikian pula seyogyanya asas yang mesti dijadikan pijakan bagi kehidupan Islami nan membahagiakan di masa kini, yakni tiada lain hanyalah RUJUK (kembali) kepada AlKitab was Sunnah.
Hanya saja, masalahnya memerlukan sedikit penjelasan, sebab betapa banyak jama'ah serta golongan-golongan di "lapangan" mengaku bahwa mereka telah meletakkan sebuah manhaj yang memungkinkan dengannya terwujud masyarakat Islam dan terwujud pelaksanaan hukum berdasarkan Islam. Sementara itu kita mengetahui dari Al-Kitab dan Sunnah Rosulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM, bahwa jalan bagi terwujudnya itu semua hanya ada satu jalan, yaitu sebagaimana yang disebutkan oleh Alloh Ta'ala dalam firmannya.
"Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya". (Al-An'am: 153).

Dan sungguh Rosulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM, telah menjelaskan makna ayat ini kepada para shahabatnya. Beliau pada suatu hari menggambarkan kepada para shahabat sebuah garis lurus di atas tanah, disusul dengan menggambar garis-garis pendek yang banyak di sisi-sisi garis lurus tadi.
Kemudian beliau SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM membacakan ayat di atas ketika menudingkan jari tangannya yang mulia ke atas garis yang lurus dan kemudian menunjuk garis-garis yang terdapat pada sisi-sisinya, beliau bersabda:
"Ini adalah jalan Alloh, sedangkan jalan-jalan ini, pada setiap muara jalan-jalan tersebut ada syaithan yang menyeru kepadanya". (Shahih sebagaimana terdapat di dalam "Zhilalul Jannah fi takhrij As-Sunnah: 16-17).
Alloh 'Azza wa Jalla-pun menguatkan ayat beserta penjelasannya dari Rosulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM dalam hadits di atas, dengan ayat lain, yaitu firman-Nya. "Dan barang siapa yang menentang Rosul sesudah jelas petunjuk (kebenaran) baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-seburuk tempat kembali". (An-Nisaa: 115)
Dalam ayat ini terdapat sebuah hikmah yang tegas, yakni bahwa Alloh Subhanahu wa Ta'ala mengikatkan "jalannya orang-orang mukmin" kepada apa yang telah di bawa oleh Rosulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM. Hal inilah yang telah diisyaratkan oleh Rosullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM dalam hadits iftiraq (perpecahan) ketika beliau ditanya tentang Al- Firqah An Najiyah (golongan yang selamat), saat itu beliau menjawab: "(Yaitu) apa yang aku dan shahabatku hari ini ada di atasnya" (lihat As-Silsilah Ash-Shahihah: 203)
Apakah gerangan hikmah yang di maksud ketika Alloh menyebutkan "Jalannya orangorang mukmin (Sabiilul mukminim)" dalam ayat tersebut? Dan apakah kiranya hal yang dimaksud ketika Rosulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM mengikatkan para shahabatnya kepada diri beliau sendiri dalam hadits di muka?
Jawabannya, bahwa para shahabat radhiyAllohu anhum itu adalah orang-orang yang telah menerima pelajaran dua wahyu (Al-Qur'an dan As-Sunnah) langsung dari Rosulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM, beliau telah menjelaskannya langsung kepada mereka tanpa perantara, tidak sebagaimana keadaan orang-orang yang sesudahnya.
Tentu saja hasilnya adalah seperti yang pernah dikatakan oleh Rosulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM dalam sabdanya: "Sesungguhnya orang yang hadir akan dapat melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang yang tidak hadir" (Lihat Shahih Al-Jami': 1641).
Oleh sebab itulah, iman para shahabat terdahulu lebih kuat daripada orang- orang yang datang sesudahnya. Ini pula telah diisyaratkan oleh Rosulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM dalam hadits mutawatir: "Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang sesudahnya, kemudian orang-orang yang sesudahnya lagi". (Muttafaq 'alaihi).
Berdasarkan hal ini, seorang muslim tidak bisa berdiri sendiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah, tetapi ia harus meminta bantuan dalam memahami keduanya dengan kembali kepada para shahabat Nabi yang Mulia, orang-orang yang telah menerima pelajaran tentang keduanya langsung dari Rosulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM yang terkadang menjelaskannya dengan perkataan, terkadang dengan perbuatan dan terkadang dengan taqrir (persetujuan) beliau.
Jika demikian, adalah mendesak sekali dalam "mengajak orang kembali kepada Alqur'an dan AsSunnah" untuk menambahkan prinsip
"berjalan di atas apa yang ditempuh oleh ASSALAFU ASSHALIH"
dalam rangka mengamalkan ayat-ayat serta hadits-hadits yang telah disebutkan di muka, manakala Alloh menyebutkan "Jalannya orang-orang mukmin (sabilul mu'minin)", dan menyebutkan Nabi-Nya yang mulia serta para shahabatnya dengan maksud supaya memahami Al-Kitab was Sunnah sesuai dengan apa yang dipahami oleh KAUM SALAF generasi pertama dari kalangan shahabat radliyAllohu anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka secara ihsan.
Sebagai penutup jawaban, kami bisa mengatakan dengan bahasa yang lebih jelas kepada kaum muslimin yang betul-betul ingin kembali mendapatkan 'IZZAH (kehormatan), kejayaan dan hukum bagi Islam, yaitu anda harus bisa merealisasikan dua perkara:
Pertama : Anda harus mengembalikan syari'at Islam ke dalam benak-benak kaum muslimin dalam keadaan bersih dari segenap unsur yang menyusup ke dalammnya, apa yang sebenarnya bukan berasal daripadanya, ketika Alloh Tabaraka wa Ta'ala menurunkan firmannya : "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kusempurnakan ni'matKu, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu" (AlMaaidah: 3).
Mengembalikan persoalan hari ini menjadi seperti persoalan zaman pertama dahulu, membutuhkan perjuangan ekstra keras dari para ulama kaum muslimin di pelbagai penjuru dunia.
Kedua : Kerja keras yang terus menerus tanpa henti ini harus dibarengi dengan ilmu yang telah terbersihkan itu. Pada hari kaum muslimin telah kembali memahami dien mereka sebagai mana yang dipahami para shahabat Rosulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM, kemudian melaksanakan pengamalan ajaran Islam yang telah terbersihkan ini secara benar dalam semua segi kehidupan, maka pada hari itulah kaum mu'minin dapat bergembira merasakan kemenangan yang datangnya dari Alloh.
Inilah yang bisa saya katakan dalam ketergesa-gesaan ini, dengan memohon kepada Alloh agar Dia memberikan pemahaman Islam secara benar kepada kita dan seluruh kaum muslimin, sesuai dengan tuntunan kitab-Nya dan Sunnah Rosulullah SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM yang shahih sebagaimana yang telah ditempuh oleh:

SALAFUNA ASH-SHALIH.

Kita memohon kepada Alloh agar Dia memberikan taufiq kepada kita supaya dapat mengamalkan yang demikian itu, sesungguhnya Dia SAMI' (Maha Mendengar) lagi Mujib (Maha Mengabulkan Do'a).
Wallohu'alam

Disadur oleh:
IBNU RIJAL,
Lebih baru Lebih lama

Followers