“MAKA BERSIHKANLAH HAJIMU”
.... Mengerjakan Haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu
(bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah[216] .
Barangsiapa mengingkari (kewajiban Haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha
Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
Janganlah kita enggan mengilmui hal-ikhwal yang berhubungan dengan
manasik Haji. Sekalipun saat ini kita tidak mungkin dapat menunaikan
“Ibadah Yang Mahal” ini. Ingatlah bahwa Allah adalah Mahakaya dan Maha
Berkuasa. Marilah kita meminta kepada Allah agar kita bisa menunaikan
ibadah ini dengan penunaian yang benar, amin.
Lebih dari pada itu, kita bisa menjadikan nasehat dalam rubrik ini
sebagai hadiah untuk saudara kita yang hendak menunaikan ibadah Haji,
semoga kita mendapat bagian pahala.
Sekilas manasik Haji adalah ibadah yang rumit dan sulit dipelajari,
ketahuilah ini adalah was-was setan. Malas mempelajari manasik Haji
akan membuahkan kesalahan dan kebid’ahan. Semoga kita diberkahi oleh
Allah untuk menjauhi perbuatan yang hina dan diberi petunjuk untuk
kembali kepada Sunah Rasulullah SAW.
Haji Wajib Bagi Yang Mampu.
Ayat di atas (QS. Ali Imron: 3:97) menjelaskan bahwa amal ibadah Haji
adalah wajib bagi orang yang mampu. Makna “mampu” meNurut ahli tafsir
ialah memiliki bekal yang cukup dan mampu pergi. Di samping itu,
hendaklah memiliki bekal ilmu dan takwa yang cukup sebagaimana
perintah Allah SWT
…. Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa [124]
dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.
Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri و الله (mukhtashor Fiqhul –
Islami: 1/648) berkata: “Adapun yang dimaksud orang yang mampu Haji
ialah orang yang sehat badannya, mampu pergi, serta memiliki bekal
dankendaraan atau mempunyai ongkos untuk kepergian dan kepulangan ke
negerinya. Setelah dia melunasi hutangnya dan menafkahi orang yang
menjadi tanggunganya dan keluarganya dan dia punya bekal untuk
memenuhi kebutuhan pokoknya”.
Keutamaan Menunaikan Haji Dan Umroh
Setiap perintah Allah SWT dan Rasulnya SAW bila dikerjakan pasti
membawa keberuntungan dan ada keutamaan yang diperoleh, sebaliknya,
setiap larangan Allah SWT dan Rasul-Nya SAW bila dilanggar pasti
berbahaya dan membawa mudhorot.
Adapun keutaman – keutamaan Haji ialah sebagai berikut;
• Tergolong amal yang paling baik dan disenangi oleh Allah.
Dari Abu Hurairoh رضي الله عنه Nabi SAW pernah ditanya:
أَيُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيْمَانٌ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ قِيْلَ
ثُمَّ مَاذَاقَالَ جِهَادٌ فِي سَبِيْلِ اللهِ قِيْلَ ثُمَّ مَاذّا قَالَ
حَجُّ مَبْرُوْرٌ
“Amalan apa yang paling mulia? “Beliau menjawab: “Iman kepada Allah
danRasul-Nya.” Lalu ada lagi yang bertanya: “Kemudian apa lagi?“
Beliau menjawab: ”Jihad di jalan Allah”, lalu ada lagi yang bertanya:
”Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: ”Haji yang mabrur”. (HR. al-
Bukhori: 5/39)
Adapun yang dimaksud Haji mabrur ialah Haji yang diterima, yang tidak
disertai dengan maksiat dan dosa seta tidak pamer atau mencari pujian
manusia (lihat Fathul Bari’: 1/43)
Ada yang mengatakan bahwa Haji mabrur ialah orang yang suka member
makan kepada orang lain dan bicaranya baik. (Lihat Tuhfatul-Ahwadzi:
2/354)
• Pulang dari ibadah Haji tanpa dosa seperti anak yang baru lahir
Yakni jika Hajinya dilakukan sesuai dengan sunah Rasulullah SAW serta
bersih dari perkataan dan perbuatan yang keji.
Dari Abu Hurairoh ra. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ
كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
“Barang siapa yang berHaji ke Baitullah sedang dia tidak berkumpul
dengan istrinya dan tidak berbuat maksiat, maka dia akan pulang (dari
ibadah Haji) seperti anak yang baru lahir”. (HR. al-Bukhori: 6/344)
• Menghapus dosa dan dibalas dengan surga
Dari Abu Hurairoh ra Rasulullah SAW bersabda:
الْعُمْرَةُ إِلىَ الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ
الْمَبْرُوْرُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
“Umroh sampai Umroh berikutnya menghapus dosa diantara keduanya, dan
Haji yang mabrur tidak ada baginya balasan melainkan surga”. (HR. al-
Bukhari: 6/274)
KESALAHAN – KESALAHAN DALAM BERHAJI
a. Haji Arisan/ Haji Hutang.
Allah yang Maha belas kasihan kepada hamba-Nya tidaklah memerintahkan
hamba-Nya beribadah melainkan meNurut kemampuannya. Contohnya ibadah
Haji, Allah mewajibkanya hanya bagi hamba-Nya yang mampu sebagaimana
keterangan ayat di atas. Sedangkan yang tidak mampu dilarang
memaksakan diri, karena Allah menghendaki bagi Umat Nabi Muhammad SAW
ini kemudahan, bukan kesulitan.
... Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. .. QS.Al Baqarah: 2:185)
Akan tetapi, kita jumpai pada akhir zaman ini ada “Haji Arisan” atau
“Haji Hutang”. Orang–orang mengadakan kelompok arisan tabungan Haji,
siapa yang dapat giliran pertama (diundi dalam arisan) maka dia
berangkat Haji terlebih dahulu, sedangkan yang lain menunggu giliran.
Haji hutang ini melanggar ketentuan ayat di atas dan melanggar
ketetapan Rasulullah SAW.
Aisyah ra mengabarkan: sesungguhnya Rasulullah SAW berdo’a ketika
shalat:
اللهمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ المَاْثَمِ وَالْمَغْرَمِ
“Ya Allah aku berlindung kepadamu dari banyak dosa dan banyak
hutang”.
Lalu ada yang bertanya: ”mengapa engkau sering minta perlindungan
kepada Allah dari sering hutang, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:
“orang yang sering hutang, apabila berbicara dia berdusta dan apabila
berjanji dia menyelisihi” (HR. al-Bukhari: 2222)
Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله pernah ditanya: “sebagian manusia di
dalam suatu lembaga mengambil pinjaman dari PT untuk digunakan berHaji
dan (lalu) dipotonglah dari gajinya setiap bulan (untuk melunasi
pinjaman tersebut), maka bagaimana pendapat anda di dalam perkara
ini?”.
Beliau menjawab: ”Adapun saya berpendapat hendaklah dia tidak
melakukannya, karena manusia tidak diwajibkan Haji apabila dia punya
hutang, bagaimana bila dia berhutang? Maka saya tidak berpendapat
bolehnya hutang untuk Haji, karena Haji seperti ini tidak wajib bagi
dia. Seharusnya orang Islam menerima keringanan dari Allah dan tidak
membebani dirinya dengan hutang yang dia tidak tahu apakah dia akan
bisa membayarnya. Boleh jadi dia mati sebelum bisa membayarnya
sehingga menjadi tanggnungan dirinya (di akhirat)”. (fatawa Nur’Alad-
Darbi”1/277)
b. Wanita Haji Tanpa Mahrom
Sering kita jumpai, lembaga bimbingan Haji membolehkan wanita pergi
Haji tanpa mahrom dengan alasan termasuk darurat menjadikan kiai atau
ustadz sebagai “mahrom sementara” selama perjalanan Haji. Perlu
diketahui, ini adalah kesalahan yang wajhib diluruskan, karena
menyimpang dari dalil al-Qur’an dan as-Sunah.
Syaikh Ibnu Utsaimin ra pernah ditanya: “Ada seseorang wanita pergi ke
Jeddah untuk menunaikan ibadah Umroh, lalu dia diantarkan oleh
mahromnya sampai di Bandara Riyadh. Dia naik pesawat sendirian,
setelah tiba di Jeddah dijemput oleh mahromnya yang lain. Bolehkah hal
ini? ”Beliau menjawab.” Jika perkara itu sudah terlanjur, selesailah
perkaranya, tetapi wanita itu berdosa karena dia melanggar hadits
ini:
وَلاَتُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ
“Dan janganlah wanita berpergian melainkan melainkan bersama dengan
mahromnya”
Wanita ini pergi tanpa mahrom, maka dia melanggar apa yang dilarang
oleh Rasulullah SAW, mungkin kamu membantah: mahromnya telah
mengantarkan dia ke bandara dan dia dijemput oleh mahromnya yang lain
di bandara pula, sehingga hilang rasa kekhawatiran. Rasulullah SAW
tidaklah melarang suatu perkara melainkan karena khawatir jatuh kepada
perkara yang haram, maka (apakah) jika hilang rasa ke khawatiran
berarti boleh dikerjakan? Jawabnya: Sesungguhnya Rasulullah SAW
bersabda:
وَلاَ تُسَافِرِ المَرَأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ فَقَامَ رَجُلٌ
فَقَالَ يَا رَسُو لُ اللهِ إِنَّ امْرَأَتِي خُرَجَتْ حَاجَّةٌ وَإِنِّي
اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَاوَكَذَاقَالَ انْطَلِقِ فَحُجَّ مَعَ
امْرَأَتِكَ
“dan janganlah wanita bepergian melainkan bersama dengan mahromnya,
lalu ada seorang laki–laki berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya
istriku ingin menjalankan Haji padahal diriku diwajibkan berperang ini
dan ini, Beliau menjawab: “pergilah kamu dan Hajilah engkau bersama
istrimu”. (HR. al-Bukhari: 2391 dari Ibnu Abbas radhiAllahu anhuma)
Rasulullah SAW menyuruh agar dia menggagalkan pergi berperang dan
menyuruh agar pergi Haji bersama istrinya. Apakah Rasulullah SAW
menanyakan kepada laki-laki itu apakah istrimu itu aman pergi
sendirian atau tidak aman? Beliau tidak bertanya hal itu. Apakah
Beliau bertanya ‘Dia Haji bersama wanita lain atau sendirian? Tidak,
Beliau tidak bertanya demikian (apakah Beliau bertanya) apakah istrimu
itu masih muda atau tua? Beliau tidak bertanya demikian. Kalau begitu,
hadits itu menunjukkan umum.’ (Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin: 2/590)
Kita bisa menarik kesimpulan: jika wanita itu diantar jemput dari
bandara ke bandara dan ditemani oleh mahromnya selama dia menunaikan
Umroh maka yang dipermasalahkan hanyalah keberadaaan wanita itu
dipesawat. Lantas bagaimana jika selama di kota Mekkah dan Madinah
tidak diantar oleh mahromnya, sebagaimana banyak dilakukan oleh
jama’ah Haji Indonesia? Tentu ini adalah dosa yang harus ditinggalkan.
Kita hendaklah mempunyai adab dihadapan Allah, bagaimana manusia
beribadah dengan melanggar larangan-Nya?! adapun dalil yang lain yang
memperkuat adanya wanita Haji hendaklah dengan mahromnya yang sah,
bukan mahrom palsu, ialah hadits berikut:
Aisyah ra. Berkata; “wahai Rasulullah, kalian semua telah menunaikan
Umroh sedangkan aku belum Umroh, maka Beliau berkata:
يَاعَبْدَ الرَّحْمَنِ اذْهَبْ بِأُخْتِكَ فَأَعْمِرْهَامِنْ
التَّنْعِيْمِ
“Wahai Abdurrohman (saudara Aisyah) pergilah kamu bersama saudarimu
(Aisyah istri Rasulullah SAW) lalu Umrohkan dia dari Tan’im.” (HR. al-
Bukhori: 5/395)
c. Kesalahan Jama’ah Sebelum Berangkat
Membawa alat musik pada waktu akan pergi Haji. Hukumnya haram,
termasuk melanggar Surat Al Baqarah: 2:197), (Fatwa Ibnu Matsain dalam
Fatawa al-Makiyyah. Hlm.4)
Syaikh Muhammad Nasrudin al-Albani rahimallah (hajjatun-Nabi: 106)
berkata: Termasuk bid’ah sebelum jama’ah Haji pergi:
• Shalat dua raka’at: rakaa’at pertama membaca surat al-Kaafirun dan
yang kedua membaca surat al-Ikhlas, setelah salam membaca do’a
tertentu seperti yang disebutkan di dalam kitab ihyaulumuddin.
• Shalat empat raka’at, sedangkan hadits yang menjelaskan adalah
lemah.
• Membaca wirid Haji, surat Ali Imron, ayat kursi, dan seterusnya.
• Shalat dua raka’at tiap memasuki daerah tertentu.
Kesalahan Lainnya.
• Tidak menuntut ilmu tentang ibadah Haji yang benar dan hanya
menyerahkan kepada ketuanya, padahal mampu belajar.
• Laki–laki mencukur jenggot dan/atau memakai cincin emas, wanita
bercukur bulu alisnya dan/ atau memakai sanggul palsu. Ini adalah
perbuatan dosa sebagaimana diterangkan dalam hadits yang shohih.
• Menziarahi kuburan keluarganya dan minta dido’akan oleh ahli kubur.
Perbuatan ini bukan sekadar salah melainkan tergolong perbuatan
syirik, karena berdo’a seharusnya hanyalah kepada Allah SWT.
• Mengadakan walimah pemberangkatan Haji, dan kadang kala suami istri
duduk berdua untuk disaksikan oleh para undangan, bahkan dalam acara
itu tak jarang disertai suara musik dan nyanyian. Nyanyian dan alat
musik haram berdasarkan surat Lukman 31: 6 dan wanita diharamkan
memperlihatkan keindahan dirinya di depan kaum pria (baca surat an-Nur
24:31)
• Berangkat Haji hanya dengan modal tawakkal kepada Allah, padahal
Haji harus berbekal (lihat surat al Baqarah 2: 197) dan ini termasuk
menyelisihi ayat di atas.
• Wanita pergi Haji tanpa mahrom, atau pinjam mahrom orang lain, atau
dinikahkan sementara, nikah sementara adalah nikah mut’ah, hukumnya
haram dan tergolong perbuatan zina!
• Mengadakan ucapara pelepasan. Kadang kala ada yang minta
diberangkatkan dari masjid, disambut dengan shalawat Nabi, tahlilan,
yasinan, dan dibacakan bahkan sebelum berangkat dikumandangkan suara
adzan dan iqamat. Perbuatan ini adalah bid’ah, bahkan bisa jatuh
kepada riya’.
• Sebelum berangkat laki-laki berjabat tangan dengan perempuan yang
bukan mahramnya. Ini adalah perbuatan maksiat tetapi kebanyakan orang
awam tidak memperhatikannya.
d. Kesalahan Tatkala Memakai Kain Ihrom.
Lajnah Da’imah ulama Arab Saudi berkata;
• Membaca talbiyah bersama–sama dengan dikomandoi (fatawa Lajnah
Da’imah: 11/358)
• Melewati miqot tanpa mengenakan baju Ihrom. Dendanya, hendaklah
kembali ke miqot lalu mengenakan pakaian Ihrom, jika tidak mungkin
maka harus membayar fidyah berupa menyembeliyh binatang qurban (dalil
Haji wal –Umroh: 31-32)
• Menjadikan Jeddah sebagai miqot ketika turun dari pesawat terbang.
Ini salah (fatawa Lajnah Da’imah No. 19210)
Syaikh al-Albani rahimallah (hajjatun–Nabi: 111) berkata: Adapun
kesalahan pada waktu berIhrom dan bertalbiyah sebagai berkut:
• Mengenakan baju Ihrom sebelum sampai miqot
• Wanita mengeraskan bacaan talbiyah
• Shalat di masjid Aisyah di Tan’im
• Pergi ke masjid selain Masjidil Haram.
• Pergi ke gunung, gua dan tempat di sekitar kota Makkah.
Termasuk kesalahan pula, wanita berIhrom memakai baju sempit, tipis,
bersolek, serta memakai parfum dan alat kecantikan lainnya.
e. Kesalahan Ketika Di Penginapan.
Jama’ah Haji kelas biasa, bila telah tiba di kota Makkah atau Madinah
mereka menginap di satu kamar, jumlah penghuninya 10-15 orang.
Adapun kesalahan antara lain:
• Jama’ah Haji pria dan wanita bercampur jadi satu di dalam satu
asrama. Ini adalah kesalahan besar, karena akan mengundang fitnah
berupa zina mata, zina mulut, dan zina lainnya. Bahkan bisa jadi
sebagian aurat wanita terlihat. Terlebih–lebih apabila suasana ruangan
panas sedang pada umumnya mereka (jama’ah Haji wanita) tidak memakai
baju hijab (penutup aurat) secara syar’i. Padahal sebenarnya bisa
diatur dengan cara mengelompokkan laki-laki dengan sesama laki-laki
dan wanita dengan sesama wanita –sebagaimana yang pernah kami alami-
dan ternyata para jama’ah pun tidak merasa berat. Maka kami
menyarankan, hendaklah jama’ah Haji kelas biasa memberi tahu ketua
kloter-nya agar bisa mengatur jama’ahnya dengan baik (pemisahan laki-
laki dan wanita) sehingga terhindar dari fitnah.
• Jabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, padahal telah
diterangkan di dalam hadits yang shohih bahwa siksaan berupa kepala
ditusuk dengan besi yang panas sampai tembus dubur itu lebih ringan
daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.
• Laki-laki bercanda dengan perempuan yang bukan mahramnya secara
bebas. Perkara ini melanggar surat al-Baqarah 2:197)
• Mementingkan diri sendiri dan tidak memperhatikan kebutuhan
temannya. Hal ini bertentangan dengan firman-Nya dalam surat al-
Ma’idah 5:2)
• Kaum pria meninggalkan shalat berjama’ah di majid tanpa uzur
(berhalangan), dengan beralasan sebagai musafir.
• Laki-laki bersepi–sepi dengan wanita yang bukan mahramnya dan wanita
pergi jauh tanpa mahrom.
f. Kesalahan Ketika Di Masjidil Haram.
Adapun kesalahan pada waktu di Masjidil Haram.
Menggantungkan surat di Kelambu Ka’bah ditujukan kepada Rasulullah SAW
dan lainnya dengan berharap barokah dan terhindar dari balak. Ini
adalah perbuatan syirik. (fatawa al-Aqidah kar. Ibnu Utsaimin: 396,
397)
Mengusapkan anak dan bajunya ke dinding Ka’bah untuk mencari barokah.
Menggantungkan tangan ke dinding Ka’bah. Mengusap Maqom Nabi Ibrahim
untuk mencari barokah. Mewajibkan do’a khusus pada waktu thowaf.
Adapun yang benar, Rasulullah SAW membaca ketika di rukun Yamani dan
Hajar Aswad dengan do’a:
Fatwa Syaikh Sholih al-Fauzan dalam Nur ‘Alad-Darbin: 3/96),,
رَبَّنَاءَاتِنَافِى الدُنْيَا حَسَنَةً وَفِى اللآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَار
Mengelilingi Masjidil Haram untuk menghitung jumlah pintu dan tiangnya
dan menghitung kubah hijau. Ini termasuk perbuatan sia–sia. Membaca
buku tahlil, shalawat nariyah, barzanji, dan kitab–kibat bid’ah
lainnya. Berjama’ah di Masjidil–haram berjejal–jejal dengan wanita
padahal ada tempat yang kosong untuk kaum pria.
Pada waktu hari raya, jama’ah Haji pergi ke Jeddah. Hukumnyua haram!
(lihat fatwa Ibnu Baz dalam Ahkamul-hajji wal-Umroh wa Ziaroh hlm.
85)
g. Kesalhanan Ketika Thowaf
Memulai thowaf sebelum Hajar Aswad. Thowaf di dalam hijir Ismail,
berjalan dengan cepat pada semua putaran. Mengusap hajar Aswad dengan
maksud agar mendapat barokah. Menjamah seluruh pojok Ka’bah. Mengusap
dinding Ka’bah. Mengomdo do’a thawaf. Berdesak–desakan untuk
menjalankan shalat dua raka’at dibelakang maqam Nabi Ibrahim. (lihat
dalil hajji wal-Umroh : 32-34)
Syaikh al-Albani rahimallah (hajjatun-Nabi: 113-118) berkata: Adapun
bid’ah dan kesalahan pada waktu thowaf antara lain:
• Mewajibkan mandi sebelum thowaf
• Memakai kaus kaki agar tidak kena kotoran burung.
• Membungkus dua tangan agar tidak tersentuh oleh wanita
• Shalat tahiyatul masjid tatkala akan thowaf
• Mengeraskan niat ketika thowaf
• Mengangkat kedua tangan seteleh menyantuh hajar Aswad
• Bersuara ketika mencium hajar Aswad
• Berjejal–jejal mencium hajar Aswad sehingga menyakiti saudaranya.
• Setelah shalat jama’ah bersegera menemui Imam masjid untuk berjabat
tangan.
• Ketika menyentuh hajar Aswad berdo’a
اللهمَّ إِيْمَانًَ بِكَ وَتَصْدِيْقَا بِكِتَابِكَ
• Meletakan tangan kanan di atas tangan kiri ketika thowaf, ketika
menghadap pintu Ka’bah membaca do’a.
اللهمَّ أَنَّ الْبَيْتَ بَيَتُكَ وَالحَرَمَ حَرَمُكَ وَالأَمْنَ
أَمْنُكَ ...
• Berdo’a di pancuran air Ka’bah dengan do’a.
اللهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنَ الشَكِّ وَالشِّركِ وَالشِّقَاقِ
وَالنِّفَاقِ وَسُوْءِ الأَخْلاَقِ وَاسْقِنِيْ بِكَأْسِ سَيِّدِنَا
مُحِمَّدٍ شُرْبَةً هَيِّئَةً مَرِيْئَةً لاَأَظْمَأُ بَعْدُ أَبَدًا ،
يَاذَاالْجَلاَلِ وَالاِحْرَامِ
• Berdo’a pada waktu putaran keempat:
رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّاتَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ
الأَعَزُّ اْلأَكْرَمُ
• Mencium rukun Yamani.
h. Kesalahan Ketika Sa’i
Berjalan cepat pada waktu Sa’i untuk semua putaran, padahal yang benar
hanya ketika melintasi tanda hijau. Ketika sampai bukit Shofa dan
Marwah, menghadap ke Ka’bah lalu bertakbir seperti akan menunaikan
shalat. (Lihat Dalil Hajji wal Umroh: 34)
Syaikh al-Albani rahimallah (hajjatun-Nabi; 106) berkata: adapun
bid’ah dan kekeliruan ketika Sa’i antara lain:
• Berwudlu setiap akan sai dengan angggapan bahwa setiap tapak kaki
pahalanya tujuh puluh ribu derajat.
• Naik ke bukit Shofa sehingga menempel pada dinding.
• Berdo’a dengan do’a …
اللهُمَّ اسْتَعْمَلْنِى بِسُنَّةِ نَبِيِّكَ
tatkala turun dari Shofa
• Sa’i dengan empat belas putaran diakhir di bukit sofa
• Berulang–ulang menajlankan Sa’i pad waktu Haji dan Umroh
• Sahal dua’ raka’at setelah Sa’i
• Tetap menjalankan Sa’i ketika dikumandangkan adzan.
i. Kesalahan Ketika Di Muzdalifah.
Syaikh ibnu Utsaimin rahimallah (Majmu fatawa ibnu Utsaimin: 23/90-93)
berkata: adapun kesalahan pada waktu di Muzdalifah:
• Pergi dri Arofah ke Muzdalifah sebelum terbenamnya matahari.
• Berjejal–jejal ke Muzdalifah dan terlalu cepat sehingga menimbulkan
tabrakan mobil
• Turun sebelum sampai di Muzdalifah
• Menunaikan shalat Maghrib dan Isya’ di jalan sebelum sampai di
Muzdalifah
• Tidak shalat Maghrib dan Isya’ di Muzdalifah sampai waktu Isya’
habis.
• Shalat fajar di Muzdalifah sebelum waktunya.
• Tidak berhenti di Muzdalifah walaupun sejenak melainkan malah jalan
terus dengan alasan bahwa “Lewat” sudah dinamakan bermalam.
j. Kesalahan Ketika Di Arofah
Syaikh Ibnu Utsaimin (Majmu’ fatawa ibnu Utsaimin: 23/42-46) berkata:
Adapun kesalahan pada waktu menuju ke Arofah:
• Laki–laki tidak membaca talbiyah dengan suara keras.
• Turun sebelum sampai di Arofah dan tinggal di tempat itu sampai
matahari tergelincir, dan tinggal di tempat itu pula sampai
tenggelamnya matahari lalu pergi ke Muzdalifah.
• Berdo’a menghadap ke gunung. Padahal kiblat ada dibaliknya.
• Mewajibkan diri untuk wukup di tempat tinggal Rasulullah SAW di
gunung tersebut, dengan susah payah bahkan menyakiti saudaranya.
• Berkeyakinan bahwa pohon di Arofah seperti pohon di Mina dan
Muzdalifah, tidak boleh dipotong atau diambil daunnya.
• Meyakini bahwa Jabal Nur adalah gunung yang suci, sehingga mereka
berjejal–jejal mencari berkahnya.
• Keyakinan bahwa wajib shalat jam’ah Dzuhur dan Ashar dengan imam di
masjid tersebut.
• Pergi meninggalkan Arofah menuju Muzdalifah sebelum terbenamnya
matahari.
• Menyia-nyiakan waktu tanpa faedah dengan mengobrol dan bersenda
gurau pada waktu wukuf di Arofah.
Kesalahan Lain (Dalil Hajj Wal-Umroh: 34)
• Wukuf di luar Arofah
• Berdesak-desakan untuk dapat naik ke atas buki Arofah
• Berdo’a menghadap ke bukit Arofah, padahal sunnahnya menghadap ke
kiblat.
• Mengadakan gundukan pasir dan batu karihkil pada waktu Arofah di
tempat–tempat tertentu.
k. Adapun Bid’ah dan kesalahan Lain (Dalil Hajj Wal-Umroh : 122-127)
• Wukuf di jabal Arofah pada tanggal 8 Dzulhijjah sebagai cadangan
bila keliru hari Arofahnya
• Malam Arofah membca dzikir …
سُبْحَانَ اللهِ فِي السَّمَاءِ عَرْشِهِ
seribu kali
• Berangkat ke Arofah dari Makkah pada tangal 8 Dzulhijjah.
• Berangkat dari Arofah ke Mina pada malam hari.
• Mandi di Arofah
• Ketika mendekati Arofah dan melihat jabal Rohmah membaca dzikir: …
سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ ِللهِ
• Di Arofah membaca tahlil dan surat al-Ikhlas seratus kali lalu
membaca shalawat Nabi SAW.
• Diam di Arofah tanpa berdo’a
• Naik ke jabal rahmah di Arofah, dengan keyakinan bahwa Allah turun
pada sore hari Arofah di atas Jabal Auroq dan berjabat tangan dengan
orang yang berkendaraan dan memeluk orang yang berjalan.
• Imam berkhutbah di Arofah dua khutbah seperti khutbah Jum’at.
• Shalat Dzuhur dan Ashar sebelum shalat Jum’at.
• Shalat sunnah antara shalat Dzuhur dan Ashar di Arofah
• Menentukan do’a secara khusus di Arofah.
• Sebagian orang pergi dari Arofah sebelum tenggelamnya matahari
• Keyakinan bila wukuf di Arofah jatuh hari Jum’at seperti menjalankan
Haji tujuh puluh dua kali.
• Mengadakan dzikir berjama’ah dengan suara keras dengan khotbah dan
sya’ir–sya’ir
l. Kesalahan Pada Waktu Melempar Jumroh.
Adapun kesalahan pada waktu melempar jumroh:
Mewakilkan melempar jumroh kepada orang lain karena tergesa–gesa ingin
pulang ini adalah salah. Jika seseorang tidak mampu melempar jumroh
boleh mewakilkannya, tetapi dia tidak pulang melainkan setelah datang
orang yang mewakilinya (lihat fatwa Syaikh ibnu Baz dalam Ahkamul Hajj
wal Umroh wa Ziaroh hlm. 95)
Syaikh al-Albani (hajjatun–Nabi: 131) berkata: Adapun bid’ah dan
kekeliruan ketika melempar jumroh:
• Mandi untuk melempar jumroh
• Mencuci batu jumroh
• Bertasbih atau dzikir sebagai ganti bertakbir.
• Melempar jumroh dengan sandal
• Membatasi tempat pelemparan lima hasta dari jamroh.
Termasuk kekeliruan pula, berdesak–desak dan menyakiti saudaranya
ketika melempar jumroh serta melempar dengan batu besar disertai
anggapan agar setan cepat mati.
m. Kesalahan Pada Waktu Menyembelih Binatang dan Mencukur Rambut.
Syaikh al-Albani rahimallah (hajjatun–Nabi: 132-133) berkata: adapun
bid’ah dan kesalahan pada waktu menyembelih kurban dan potong rambut
antara lain:
• Lebih suka membayar dengan uang dari pada menyembeli dengan alasan
mubadzir.
• Menyembelih binatang hadyu di Makkah sebelum hari qurban.
• Mencukur rambut hanya sebagian.
• Mengharuskan menghadap kiblat ketika mencukur rambut. Selesai
mencukur berdo’a;
الْحَمْدُ ِللهِ عَلَى مَاهَدَانَا وَأَنْعَمَ عَلَيْنَا....
• Wajib shalat Id di Mina pada hari qurban. Tidak menunaikan Sa’i
setelah thowaf ifadhoh bagi yang Haji Tamathu.
n. Kesalahan Pada Waktu Di Madinah.
Syaikh al-Albani rahimallah (hajjatun-Nabi: 136) menjelaskan bid’ah
dan kekeliaruan ketika jama’h Haji berda di Madinah, antara lain;
• Bermaksud Ziarah kuburan Nabi SAW.
• Mandi sebelum masuk Masjid Nabawi.
• Ketika masuk masjid Nabawi mendahulukan Ziarah kubur.
• Minta Syafa’at di kuburan Nabi SAW tau meminta kepada Beliau.
• Mencium dinding kuburan Nabi SAW dan mengusapnya untuk mendapatkan
barokah.
• Berebut mencari tempat duduk di sisi kuburan Nabi SAW untuk
berdzikir dan berdo’a.
• Menghadap kearah kuburan Nabi SAW pada waktu masuk atau kelaur
masjid Nabawi.
• Mengeraskan suara ketika salam kepada Nabi SAW setelah shalat.
• Mewajibkan tinggal di Madinah delapan hari agar dapat mengerjakan
shalat Arbain.
• Berziarah ke kuburan Baqi’ setiap hari dan shalat di Masjid
Fahimah.
• Mengkhususkan hari Kamis berziarah di kuburan syuhada Uhud.
• Keluar dari masjid Nabawi dengan mundur ketika akan pulang.
Beliau Menambahkan Pula (Hajjatun-Nabi: 137-138):
• Menghitung tiang dan kubah masjid Nabawi
• Berdo’a dan menangis di kuburan Nabi SAW.
• Meminta dan memanggil Nabi SAW untuk bertawasul kepadanya.
• Meyakini bahwa berada di depan kuburan Nabi SAW cepat dikabulkan
(do’anya)
o. Kesalahan Pada Waktu Pulang Ke Tanah Air.
• Setelah tiba di rumah tidak membolehkan dirinya keluar selama
sepekan –bahkan tidak menunaikan shalat lima waktu secara berjama’ah
di masjid- dan menganggap ini adalah sunah, ini adalah paham yang
bid’ah (lihat fatawa Lajnah Da’imah : 11/358)
• Marah bila tidak dipanggil “Pak Haji”
• Merasa wajib memakai kopyah dan pakaian putih.
• Mewajibkan diri mengganti namanya dengan nama baru.
• Didudukkan di kursi untuk berjabat tangan dengan orang yang
berkunjung, bahkan kadang kala berjabat tangan pula dengan wanita yang
bukan mahromnya.
• Mengadakan walimah Haji, dan beranggapan kurang sempurna Hajinya
bila tidak mengadakan walimah atau tasyakuran.
• Ridho (rela) dimintai barokah oleh pengunjung.
• Pulang disambut dengan shalawat Nabi.
amalan ibadah Haji. Akhirnya kita mohon kepada Allah semoga Allah
senantiasa memberi petunjuk kepada kita ke jalan yang diridhai-Nya dan
dijauhkan dari amalan syirik, bid’ah dan maksiat.